Searching...

Mengenal Kabuki, Seni Teater Tradisional Khas Jepang

February 25, 2015
Kalau di Indoesia mungkin wayang orang atau seperti pertunujkan Opera tradisional. Di jepang sendiri .Kabuki (歌舞伎?) adalah seni teater tradisional khas Jepang. Aktor kabuki terkenal dengan kostum mewah dan tata rias wajah yang mencolok.,menggabungkan unsur tari, pantomim, musik, dan drama.

Pelaku sering memakai kostum dan make-up berlebihan untuk menegaskan karakter mereka. Riasan antara lain menggunakan tepung beras untuk menciptakan efek porselen pada kulit.

 Sejarah Kabuki

Okuni sebagai tokoh di balik kebudayaan Jepang yang satu ini merintis pertunjukan kabuki pada 1603. Tidak ada sejarah yang jelas mengenai asal-usul Okuni. Yang dikenal orang hanyalah bahwa Okuni memainkan drama aneh pada masa itu, dengan pakaian mencolok dan iringan lagu populer.
Tidak disangka, ternyata kabuki mendapat respons sangat baik. Kebudayaan Jepang tersebut dengan cepat menjadi populer dan termasuk dalam kesenian avant garde Jepang masa itu, sehingga memunculkan banyak peniru.
Sayangnya, sejarah kabuki dinodai munculnya sekelompok wanita penghibur yang melakukan praktik prostitusi melalui pertunjukan drama onna-kabuki (kabuki yang dimainkan wanita) sehingga keshogunan Tokugawa melarang pementasan onna-kabuki pada 1629 karena dinilai melanggar moral. Kebudayaan Jepang ini pun sempat dilarang.

Pelarangan terhadap kebudayaan Jepang yang satu ini berlanjut pada 1629 untuk yaro-kabuki (kabuki laki-laki) yang rupanya menjadi selubung prostitusi di kalangan gigolo dan pria-pria muda. Sebagai reaksi dari pelarangan tersebut, muncullah drama kabuki yang diperankan laki-laki dewasa seluruhnya, dan menjadi konsep drama kabuki yang dikenal sekarang.
Cerita yang cukup miris ternyata menghiasi sejarah terciptanya kebudayaan Jepang yang satu ini. Hingga akhirnya, seni teater khas Jepang ini bertahan hingga saat ini.

Kebudayaan Jepang - Jenis Kabuki

Di awal perkembangannya, kebudayaan Jepang,  kabuki memiliki dua jenis pementasan; kabuki-odori dan kabuki-geki. Yang membedakan dua jenis kabuki ini adalah adanya unsur cerita dalam kabuki-geki, sedangkan kabuki-odori hanya ditampilkan tarian dan nyanyian.
Keshogunan Edo yang berkuasa saat itu mewajibkan kelompok drama kabuki meniru kyogen, kesenian yang memanggungkan drama. Karena itu, kabuki-odori pelan-pelan menghilang sedangkan kabuki-geki semakin berkembang.

Kebijaksanaan keshogunan Edo rupanya memiliki kaitan dengan upaya menekan kecenderungan kabuki menjadi prostitusi terselubung. Saat itu, kabuki-odori adalah kabuki yang populer dengan praktik kurang baik ini.
Kebijakan tersebut merupakan upaya keshogunan untuk menjaga moral rakyat. Karena itu, kabuki-geki didorong untuk menjadi kesenian yang memiliki kelas dan kehormatan. Salah satunya dengan memasukkan unsur cerita klasik kepahlawanan yang kharismatik. Kabuki semacam ini kemudian dikenal dengan sebutan kabuki-kyogen.

Kabuki

                                                                
 Musik dan Panggung Kabuki

Musik pengiring kabuki dibagi berdasarkan arah sumber suara. Musik yang dimainkan di sisi kanan panggung dari arah penonton disebut Gidayūbushi. Takemoto (Chobo) adalah sebutan untuk Gidayūbushi khusus untuk kabuki. Selain itu, musik yang dimainkan di sisi kiri panggung dari arah penonton disebut Geza ongaku, sedangkan musik yang dimainkan di atas panggung disebut Debayashi.
Musik Kabuki sendiri terbagi dalam dua jenis, yaitu Shosha Ongaku yaitu musik samisen yang mengiringi tayu (dalang) dan Geza Ongaku yaitu musik yang melengkapi pertunjukan kabuki dari belakang panggung.
Selain itu yang menarik dalam kabuki adalah bentuk panggungnya. Keunikan panggung kabuki yang tidak akan dijumpai di negara lain. Bentuk panggung terdiri dari :
1.       Hanamichi :
Lorong diantara tempat duduk penonton yang terletak disebelah kiri dan kanan panggung.
2.       Suppon :
Lubang segi empat yang terdapat pada Hanamichi yang dapat ditarik ke atas dan ke bawah.
3.       Mawani Butai :
Bulatan besar yang terletak ditengah-tengah panggung dan dapat berputar fungsinya untuk pergantian dari siang dan malam.
4.       Yuka :
Tempat duduk tayu (dalang), pemetik simasen.
5.       Geza :
Tempat para pemain musik untuk memainkan alat-alat musik.
6.       Hikimaku :
Layar panggung yang terdiri dari tiga warna yaitu hijau tua, orange, dan hitam.

Kementerian Pendidikan Jepang menetapkan kabuki sebagai warisan agung budaya nonbendawi. UNESCO juga telah menetapkan kabuki sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia.
Untuk anda yang berencana liburan ke Jepang jangan lewatkan untuk melihat langsung pertunjukannya. Gambar dari Pinterest


Share This:
Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

Dilarang nyepam, Apalagi nulis URL atau promosi di kolom komentar

Iklan Baris

Taksi Online Kudus
Siap mengantar anda sampai tujuan dengan aman dan nyaman
http://TaksiKudus.com

Properti Kudus
Cari Tanah kapling,Rumah minimalis atau kos kosan di kota Kudus
PropertiKudus.com

Doodle Art Market
Mau jual doodle cantik hasil kreasimu?
Doodle Art Planet

Pasang Iklan Baris
Pasang Iklan Baris Murah Meriah 25.000/Bulan
KangJum.com

Ads by Kangjum.com